Tertatih Mengejar Pelita yang Bersembunyi di Balik Kabut Ragu
Di persimpangan ini yang tersungkur bayang-bayang
ketidakpastian. Bagaikan menari diatas kaca retak yang siap pecah dibawah jejak
rapuh, jiwa bergelut dalam badai. Bayang keraguan menyelimuti jiwa seperti
kabut dingin yang merayap ke ujung raga, mengaburkan pandangan dan merenggut
kepercayaan yang dulu pernah bersinar terang.
Langkah berjalan mengapung dalam lorong tanpa ujung, di antara bisu yang menggulung bagai gelombang lautan dalam. Waktu berhenti di persimpangan ini, ruang membeku menjadi pelukan sepi yang membelit jiwa dalam tabir sunyi berlapis-lapis. Kabut ini bukan sembarang kabut, melainkan ombak keraguan yang menenggelamkan setiap percikan nyala, membuat jiwa mengambang seperti kapal kecil yang tersesat di samudra gelap tanpa bintang penuntun.
Pelita yang dicari berubah menjadi cahaya lemah, hampir
padam, berkelip di deru angin keputusasaan. Di balik tiap kerlipnya, keberanian
yang tak pernah mati, ia seperti api renyah yang menari di ujung malam
terdalam, tak mau padam walau disapu deretan gelombang kesangsian yang
menghempas.
Mencari pelita seperti mengarungi samudra luas tanpa peta,
di mana setiap napas menjadi perjuangan dan setiap detik pertaruhan antara
tenggelam dan bangkit. Kabut berubah menjadi lautan bisu penuh misteri,
menggulung harapan hingga hampir pecah dalam derasnya gelombang ketidakpastian.
Pelita itu bagai janji kecil yang berkilau seperti permata berharga, bersinar
menjadi mercusuar di tengah gulita yang pekat.
Di persimpangan kabut itu, keberanian diuji sampai ke ulit
yang paling dalam. Hanya yang berani meraba dan tersesat di gelap yang bisa
menemukan jalan; hanya yang tak gentar yang pantas mendapatkan cahaya itu.
Pelita itu bukan harta mudah dijangkau, melainkan mahkota bagi mereka yang
sanggup menembus reruntuhan keyakinan dan serpihan mimpi
Ketika pelita akhirnya terkuak, bukan cuma cahaya yang
terlihat, melainkan kemenangan sunyi yang menggetarkan jiwa, bagaikan rebahnya
bintang di malam tanpa bulan, melahirkan harapan baru yang membara. Pelita di
tengah kabut ragu mengajarkan bahwa dalam ketidakpastian selalu tersembunyi
kehidupan yang menunggu ditemukan oleh keyakinan yang baru.
Di lorong kabut itu, pelita menjadi saksi bisu perjalanan,
lagu yang terpentik dari keraguan dan luka, namun membara penuh asa dan tekad.
Ia cahaya kecil yang tak pernah menyerah, membimbing langkah-langkah kecil
menuju terang, yang akhirnya berdiri tegak, meski melewati malam tergelap
sekalipun.
Komentar
Posting Komentar