Kala Pikiran Menari

Tarian yang tak pernah usai

Kala pikiran menari, bukan sekadar gerak biasa. Melainkan tarian ombak di samudera batin yang tak bertepi, menabrak karang-karang pengalaman hingga bergemuruh laksana letusan bintang di langit malam yang sunyi. Melintasi lorong waktu yang teerselubung kabut, menyusuri akar kenangan yang berpilin dalam rahasia terdalam, menelusup dalam relung jiwa yang menjadi panggung pertunjukan sunyi.

Usaha meredam gelombang, membuka gerbang kebisingan, justru membakar langit malam dengan letusan bintang, gemuruh pikiran yang menggelegar dalam keheningan. Sampai tiba saat-saat terasa berada dalam lorong panjang, diselimuti kabut, menyusuri akar-akar kenangan yang kusut dan enggan diurai. Di sanalah panggung sunyi terbentang, menanti pertunjukan pikiran, entah berupa drama, tragedi, atau gerakan tari yang absurd tanpa naskah, di mana tiap gerak adalah pengakuan atas kekacauan yang paling dalam.

Pertanyaan, kemana kaki akan menyusur, berubah menjadi gelombang raksasa yang menggulung batas-batas nalar, membanjiri seluruh ruang jiwa dengan warna-warni ledakan seribu pelangi. Membasahi ladang harapan yang mulai retak, menumbuhkan bunga-bunga paradoks; indah dalam rasa sakit, mekar dalam kerapuhan.

Ada masa ketika keheningan bukan sekadar diam, melainkan sebuah perjalanan. Pikiran menjadi pengembara, perlahan melangkah di reruntuhan mimpi, meraba rindu yang tersembunyi dalam debu waktu. Angin malam bukan hanya angin, melainkan mantra bisu yang mengusap luka, menyapu harap, menenangkan sekaligus mengingatkan bahwa tak ada yang abadi, kecuali tarian itu sendiri.

Dalam tiap tarian ada irama yang tak bisa diabaikan. Ada suara lirih yang berlarian menjadi simfoni rahasia melilit jantung. Kadang memeluk lembut, kadang mendera hampir merobohkan. Membakar sekaligus menghangatkan, meninggalkan abu yang menari menebar dalam ruang batin.

Setiap gelombang pikiran adalah sebuah kisah epik yang ingin didengar, cerita yang tak pernah selesai, namun hidup dalam tiap tarian kata-kata. Penyulut api, kilatan selendang emas yang menari di balik tirai malam, menenun cerita tak terucap. Membelah gelap, menyalakan lorong kosong penuh kerinduan. Meski cahaya itu terkadang pudar, ia tetap selalu ditunggu.

Kata-kata datang layaknya gelombang yang bergerak bebas dan tak terduga, datang tanpa tahu pangkal dan ujung, berkejaran di antara reruntuhan imaji dan riuhnya sunyi. Dalam merangkai suara-suara tak kasat mata itu tersusun sebuah jaring penangkap yang kuat bagi jiwa yang mengembara; jaring yang menangkap gemuruh batin agar tidak terhempas jauh ke dalam kehampaan. Lewat rangkaian ungkapan itu, jiwa yang liar menjadi saksi atas tarian tak berkesudahan di panggung kosong. Menari dengan bebas tanpa batas, menjadi penonton sekaligus penari dalam sandiwara sunyi yang beredar tanpa akhir.

Jejak-jejak kata yang tergores bagai lukisan di atas kanvas waktu gonjang-ganjing, membawa harapan menjadi cahaya kecil di lorong gelap yang tak selalu terang, tapi selalu ditunggu. Semuanya mengalir dalam gerak yang sama dengan tarian yang memukau jiwa, meretas ruang kosong menjadi ladang yang penuh arti dan kehangatan.

Gelombang gejolak itu tak pernah lelah bergulung, memanggil siapa saja yang bersedia menyelami pusarannya, mengundang ikut berdansa dalam pusaran tanpa pola pasti. Karena memang begitulah hidup, tarian panjang nan rumit, di mana setiap gerak adalah pelajaran, setiap hentakan menjadi renungan, setiap jeda bagai doa yang terbisik. Dan dalam seluruh paradoks dan kekacauan itu, ada keindahan untuk terus menari, walau langkah tak selalu pasti, walau lagu tak selalu diingat. Karena hanya dengan terus bergerak dan berdansa, kehadiran terasa nyata, sebuah afirmasi abadi dalam arus waktu yang tiada henti.


Komentar

Postingan Populer