nights, pharmacies, and unexpectedly warm moments.

Hari itu, aku hanya berniat menemani 

temanku mencari obat di apotik.

Sementara aku menunggu di luar,

menunggu di bawah cahaya lampu jalan
yang memantulkan sepi ke aspal basah.
Angin malam mengusap pelan kulit yang tak sempat dibungkus jaket tebal,
Dingin,tapi tak menusuk.
Sepi,tapi tidak kosong.
Tak ada yang istimewa, pikirku.

Semuanya tampak seperti malam kebanyakan.
Manusia keluar masuk,
menenteng keresahan dalam plastik bening berisi resep dan harapan.
Yang sakit, yang menemani, yang hanya ingin cepat pulang, semuanya menyatu dalam diam.

Hingga kemudian pandanganku jatuh pada satu adegan kecil
yang muncul begitu saja dari ujung penglihatan.
Seorang perempuan yang berdiri di tepi kaca jendela apotik,
barangkali ia sedang menunggu seseorang di dalam,
seperti aku.

Tapi bukan itu yang membuatku berhenti berpikir.
Di dekatnya, seorang anak laki-laki sedang bermain,
dengan dunia kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Tak ada mainan mahal, tak ada layar ponsel,
hanya sepotong tirai jendela dan tawa yang mekar dari hati.

Si anak mengintip dari balik tirai,
lalu sembunyi lagi dengan cekikikan ringan,
sementara si perempuan menatapnya penuh hangat,
berpura-pura tak tahu,
lalu menyambut semburan tawa itu dengan senyum yang benar-benar tulus.
Ada cahaya di wajahnya. Bukan dari lampu apotik,
tapi dari sesuatu yang lebih dalam,
rasa sayang yang begitu sederhana, tapi tak bisa dibeli.

Dan di sanalah aku,
yang awalnya hanya berdiri menunggu malam berlalu,
tiba-tiba merasa sedang menyaksikan kehidupan dari sisi yang lain.
Sisi yang tenang.
Sisi yang lembut.
Sisi yang membisikkan bahwa di dunia yang dipenuhi kabar buruk,
masih ada manusia yang memilih untuk hangat.

Mereka tidak tahu sedang diperhatikan.
Mereka tidak sedang mencoba menjadi apa-apa.
Tapi justru dari situlah keajaibannya lahir.
Murni, jujur, dan mengendap dalam hati siapa pun yang melihat.

Aku tak tahu siapa mereka.
Tak tahu apa yang mereka tunggu,
atau sedang melewati hari seperti apa.
Tapi yang kutahu, malam itu. Di luar apotik,
di antara sepi yang biasanya dingin,
ada sepasang manusia yang mengubah ruang tunggu menjadi tempat bermain,
dan menjadikan dunia, meski hanya sekejap, terasa lebih baik untuk ditinggali.

Dan mungkin, itu cukup.





Komentar

Postingan Populer